Pages

Selasa, 29 April 2014

Ortu Murid JIS Geruduk KPAI, Protes Sekolah Dijelek-jelekkan - JPNN.com

JAKARTA -- Puluhan orang tua siswa Jakarta International School (JIS) "menggerebek" kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Jakarta Pusat, kemarin sore.

Mereka menyatakan dukungan penuhnya kepada JIS yang menilai sebagai sekolah yang baik. Sebaliknya mereka mengecam KPAI dan media agar tidak menjelek-jelekkan JIS atas kasus kekerasan seksual yang melanda di sekolah tersebut.

Di lain pihak, Sekretaris Jenderal Komisi Perlindungan Anak (KPAI) Erlinda Pada dasarnya KPAI sangat mengakomodasi para orang tua murid.

Namun dia tidak memungkiri forum yang berlangsung tertutup berjalan secara emosional. Erlinda mengaku para orang tua murid sampai ada yang menangis namun dalam konteks membela JIS. Anehnya, tidak ada samasekali ucapan empati terhadap keluarga korban.

Erlinda juga dikritik seorang bule pria yang ikut dalam rombongan yang mengatakan dirinya terlalu emosional. Erlinda mengaku pihaknya menjelaskan bahwa tidak ada tendensi apapun untuk menjelek-jelekkan JIS. "Tetapi kami ingin menyasar para pelaku pedofilia yang ada di dalam JIS," ungkapnya.

Dari awal KPAI tidak mengingikan media tahu atas kasus tersebut. Yang penting pihak JIS mau kopooratif karena ditemukan ada beberapa korban lain yang sudah mengadukan kasus serupa. Seluruh korban yang melapor ke KPAI memerlukan darurat perlindungan dan pendampingan.

"Kami memberikan pendampingan psikologi dan memberikan rasa aman mereka. Kak Seto psikolog kami juga mengatakan apabila telat menangani korban (kekerasan seksual) tersebut pada akhirnya (korban) akan menjadi pedofilia juga," urainya.

Berdasarkan investiasi KPAI terhadap para tersangka yang tertankap mengakui melecehkan anak-anak lebih dari satu orang. Tapi mereka tidak tahu nama sehingga butuh disodorkan foto-foto. Ironisnya satu korban digilir selalu digilir oleh empat sampai lima orang. "Ini tentunya sangat menyakitkan," urainya.

Sementara korban mengatakan, salah satu dari pelaku bukan dari para tersangka cleaning service. Berarti masih ada pelaku yang berkeliaran. "Senang atau tidak itulah faktanya,"ungkapnya.

Pihaknya juga akan mengajukan koordinasi dengan FBI yang akan hadir di Indonesia. Untuk menyelidiki buronan kasus pedofilia, William James Fahey, yang sepuluh tahun pernah bekerja sebagai guru di JIS.

Apalagi salahs seorang tersangka, Zaenal merupakan korban kekerasan seksual dari William Fahey. "Apakah rekam jejak Wiliam ini tidak menakutkan kita semua apabila ternyata patut diduga keras bahwa pelaku tidak hanya dari pihak outsourcing," ungkapnya.

Dirinya juga mengatakan pada forum bahwa hanya medis yang bisa membuktikan kebenaran adanya pelaku lain kekerasan seksual kepada murid TK JIS yang bertambah jadi lima.

"Kalau memang JIS mau memberikan tes darah opini (dugaan tersangka lain) tersebut terbantahkan. Seluruh karyawan mulai outsourcing, staf pengajar, security, dan seluruh karyawan wajib untuk dites darah. Tes darah dan endoskopi," urianya.

Tes darah juga harus dilakukan untuk seluruh siswa TK JIS. Kenapa tersangka bisa lebih dari lima. Dengan tes darah akan diketahui siapa pengidap penyakit kelamin yang kumannya ditularkan kepada korban.

"Apa tidak bisa katakana ini ada sindikat kecil. Korban lebih dari satu. Kalau tidak diungkap dengan segera bagaimana," urianya.

Jika setelah tes darah hasilanya negative, pihaknya akan berada pada garda paling depan untuk menjaga nama baik JIS. JIS juga dinilai akan memiliki reputasi yang baik di internasional karena menunjukkan pembelajaran yang luar biasa. Tapi sayangnya, ketika dirinya menyampaikan inisiatif tes darah itu, pihak JIS mengabaikannya.

"Respon mereka sangat marah dan eksprisi mereka tidak menyukasi saya. Tetapi saya ketika menegakkan keadilan dan membela anak-anak," pungkasnya. Erlinda mengakui, semenjak menangani kasus JIS banyak teror yang dialamatkan kepada pihak KPAI.

Erlinda sendiri mengaku diancam oleh orang tak dikenal akan memotong kakinya. "KPAI akan berada pada garda terdepan walau ada pelemahan-pelemahan. Kami tetap menyelamatkan anak-anak kami. Saya tidak takut dengan apapun. Walau nyawa saya hilang dari badan lilahitaalla. Saya katakana kepada keluarga saya kalau saya sampai tidak ada dalam menangani kasus ini tolong direlakan. Saya tidak akan gentar," ungkapnya seraya menahan emosi yang mendalam.

Erlinda mengakui, banyak pihak yang tidak peduli kasus JIS ini. SEcara tidak langsung dia menujukan kepada para tamunya yang mendatangi KPAI. "Apa mereka ini berempati (kepada korban). Saya tidak terlihat mereka berempati," paparnya.

Menurutnya, selama forum tertutup mereka hanya membela JIS. Mereka mengatakan bahwa JIS adalah sekolah yang bagus dan memiliki kurikulum yang luar biasa dan cinta Indonesia.

"Kami juga meminta dukungan kepada seluruh rakyat Indonesia, dukungan dari pihak-pihak yang memiliki kekuasaan bahwa KPAI benar-benar melindungi anak-anak di Indonesia," urainya.

Kehadiran para orang tua murid sore hari itu bukan mewakili pihak TK, tetapi orang tua siswa JIS pada umumnya. Kebanyakan mereka adalah perempuan. Nampak beberapa di antaranya adalah bule. Mereka kompak mengenakan kemeja warna putih dengan tanda pita biru di dada. Rombongan berangkan menggunakan satu bus.

Begitu bertemu KPAI, Menteng, pertemuan digelar secara tertutup di aula lantai III. Hingga acara berakhir, sebagian besar mereka cepat-cepat keluar. Namun sebagain lagi masih bertahan di aulua dan memberikan keterangan pers.

Seorang juru bicara orang tua siswa JIS, Lestari menyatakan terkejut sedih dan bersimpati kepada anak yang dilecehkan secara seksual di Kampus JIS. Dia juga berempati terhadap keluarga yang berurusan dengan situasi buruk tersebut.

Sebagai tanggapan atas situasi itu maka pihaknya meminta pertemuan mendesak ini dengan KPAI. "Kami mendukung Bapak-Bapak (KPAI) yang ada di sini untuk melanjutkan kerja yang telah mereka lakukan dalam memberikan perlindungan kepada anak di seluruh Indonesia," pungkasnya.

Nampak dari awal menemui mereka adalah Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh beserta para komisioner KPA juga Dewan Pembina Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Indonesia (Komnas PA) Seto Mulyadi  alias Kak Seto. Di satu sisi pihaknya mendukung pekerjaan KPAI. Namun di sisi lain,  pihaknya menilai kasus pelecehan seksual membuat traumatis korban dan keluarganya.

"Kami memohon agar KPAI terus menjaga rahasia  para korban. Sebagai orang tua keluarga besar yang dilecehkan yang terpengaruh terhadap komentar di media. Kami meminta KPAI dalam hal ini lebih sensitive terhadap pernyataan yang disampaikan. Hal serupa kami harapkan terhadap media," paparnya. Lestari menyadari hal itu keadaan yang mengerikan.

Namun di pihaknya juga percaya bahwa sekolah melakukan langkah yang tepat untuk menanggulangi keadaan tersebut dan meningkatkan keamanan di kampusnya. "Sebagai orang tua kami juga meminta agar pelaku kejahatan ini dihukum seberat-beratnya," ungkapnya.
 
Ditanya apa tidak khawatir anaknya tetap sekolah di JIS, sejumlah orang tua siswa samasekali tidak merasakannya. "Kami serahkan pada pihak berwajib dan menginginkan kasus dituntaskan secepat mungkin. Saya percaya kepada pihak yang berwajib menyelesaikan kasus ini," tegas Lestari.

Ditanya apa anak-anak mereka tidak khawatir, dia mengatakan, murid-murid JIS yang lain merasa sangat sedih, kaget, sekaligus heran kejadian seperti itu terjadi pada adik mereka.

"Kendati tidak ada hubungan darah tetapi mereka syok. Saya percaya dengan komitmen JIS untuk meberikan komitmen terbaik. Yang lain (orang tua siswa) tidak ada rencana mengeluarkan anaknya dan pindah ke sekolah lain," paparnya.

Seorang orang tua siswa yang mengaku Nurhayati, mengaku anaknya tidak mau dipindahkan dari JIS. "Justru saya baru kembali dari luar negeri, kami terganggu dengan aib yang sedang terjadi," ungkapya.

Seorang perempuan bule, Kelly, juga percaya bahwa JIS merupakan lingkungan yang aman bagi anaknya bersekolah.  (*)

Source : http://www.jpnn.com/read/2014/04/29/231334/Ortu-Murid-JIS-Geruduk-KPAI,-Protes-Sekolah-Dijelek-jelekkan-