Pages

Sabtu, 21 September 2013

Ramah Tidaknya Tetangga Pengaruhi Risiko Stroke Seseorang

Jakarta, Sering ikut arisan dengan tetangga kompleks atau berperan aktif dalam siskamling dengan rutin mengikuti jadwal ronda di kampung ternyata tak hanya menunjukkan tingginya kepedulian sosial seseorang. Baru-baru ini sebuah studi mengatakan tinggal di lingkungan yang baik juga menurunkan risiko stroke seseorang.

Tak tanggung-tanggung, risiko stroke karena tinggal bersebelahan dengan tetangga-tetangga yang ramah dan suka menolong bisa turun drastis hingga 50 persen atau setara dengan manfaat yang diperoleh seseorang yang tidak merokok.

Peneliti pun menyebut kondisi ini dengan istilah khusus yaitu 'neighborhood social cohesion'. "Jadi semakin Anda terkoneksi dengan tetangga dan lingkungan tempat tinggal Anda yang sehat dan aktif, maka Anda juga akan makin termotivasi untuk melakukan hal serupa," ungkap peneliti Eric Kim dari University of Michigan seperti dikutip dari Men's Health, Sabtu (21/9/2013).

"Sebaliknya jika Anda tak punya ikatan yang kuat dengan orang-orang di sekitar tempat tinggal Anda, Anda jadi malas dan tidak mampu mengadopsi gaya hidup atau perilaku sehat," tambahnya.

Kendati studi yang dilakukan Kim dan rekan-rekannya hanya mengamati partisipan berusia 50 tahun ke atas, peneliti ini percaya jika 'neighborhood social cohesion' ini sebenarnya juga bermanfaat bagi kesehatan generasi muda.

Menanggapi studi ini, seorang pakar bernama Geoffrey Greif, Ph.D. mengungkapkan jika menjalin pertemanan di masa kini tidaklah semudah jaman dulu. "Orang-orang dewasa jaman sekarang sudah dihadapkan pada begitu banyak orang, pasangannya, anak-anaknya, keluarga besar mereka, sehingga mereka kesulitan untuk menjalin pertemanan dengan orang-orang di luar lingkaran itu. Bahkan anak-anak mereka jauh lebih pandai melakukannya," terang penulis buku Buddy System: Understanding Male Friendships tersebut.

"Namun studi ini jelas-jelas menunjukkan betapa orang yang memiliki teman bisa hidup lebih lama, lebih sehat dan lebih bahagia," imbuhnya.

Lalu apa yang bisa dilakukan agar kita mudah akrab dengan tetangga? Grief menyarankan agar cobalah ajak tetangga baru untuk mengobrol tentang pekarangan rumahnya.

"Hampir setiap orang cenderung suka membicarakan pekarangan rumahnya. Dari sana kembangkan pembicaraan, misalnya menanyakan tentang kabar-kabar lokal yang beredar. Toh Anda dan tetangga memiliki komunitas itu sebagai suatu kesamaan, dan inilah yang menjadi bibit dari pertemanan," pungkas Grief.

(vit/vit)

Source : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/31833568/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A130C0A90C210C1520A430C23655110C7630Cramah0Etidaknya0Etetangga0Epengaruhi0Erisiko0Estroke0Eseseorang/story01.htm