Pages

Senin, 23 September 2013

Obat Kulit Bantu Perawatan Diabetes Tipe 1

KOMPAS.com - Obat alefacept, yang biasanya digunakan untuk perawatan penyakit kulit, kemungkinan bisa digunakan untuk perawatan diabetes tipe 1.

Lewat percobaan sederhana melibatkan pasien penderita diabetes tipe 1 di Amerika Serikat, alefacept bisa membantu tubuh memproduksi insulin alami. Insulin alami inilah yang dibutuhkan para penderita diabetes tipe 1 selama dalam perawatan.

Menurut para peneliti, perawatan dengan obat ini bisa memberikan hasil lebih baik dibanding perawatan lain untuk penderita diabetes tipe 1. Pasalnya, obat ini membantu memproteksi sistem imun. Meski begitu, temuan yang telah dipublikasikan di The Lancet Diabetes & Endocrinology ini perlu diperkuat dengan penelitian lebih lanjut.

Obat alefacept, yang dijual dengan merek Amevive ini dulunya digunakan untuk merawat penyakit kulit psoriasis di Amerika Serikat. Pabrik obat yang memproduksi alefacept kemudian menariknya dari pasaran pada 2011. Eropa menolak peredaran obat ini di pasaran.

Psoriasis, merupakan  penyakit autoimun yang mengenai kulit kronis, ditandai dengan sisik yang berlapis berwarna keperakan, disertai dengan penebalan warna kemerahan dan rasa gatal atau perih. Bila sisik ini dilepaskan maka akan timbul bintik perdarahan di kulit dibawahnya.

Seperti diabetes tipe 1, proriasis merupakan penyakit autoimun yang akan muncul jika sistem umum menyerang sel kulit yang sehat.

Pada uji klinis obat untuk proriasis, obat ini ditemukan untuk menyerang jenis tertentu sel T atau thymus cells/thymocytes yang juga terlibat untuk menyerang sel-sel yang memproduksi insulin pada diabetes tipe 1.

Para peneliti, dipimpin oleh tim dari Indiana University, Indianapolis, kemudian memutuskan untuk meneliti efek dari obat ini terhadap pasien diabetes tipe 1.

Pengujian obat ini, yang masih berlangsung hingga kini, melibatkan 33 pasien. Mereka menerima suntikan alefacept seminggu sekali selama 12 minggu. Ada jeda 12 minggu dari suntikan awal, untuk kemudian pasien menerima suntikan dengan dosis untuk 12 minggu. Dengan jadwal yang sama, 16 pasien lainnya mendapatkan suntikan placebo.

Dari dua teknik ini, tak ada perbedaan dari kemampuan pankreas memproduksi insulin dua jam setelah pasien makan. Namun, para peneliti menemukan ada perbedaan signifikan empat jam setelah pasien makan.

Grup yang mendapatkan suntikan obat alefacept lebih mampu menyimpan insulin. Sedangkan grup dengan suntikan placebo mengalami penurunan level insulin.

Pada penderita diabetes tipe 1 dengan kondisi autoimun, sistem imun dalam tubuhnya menyerang sel pankreas yang memproduksi insulin. Hal ini menimbulkan defisiensi insulin sehingga tubuh tidak mampu mengatur gula darah.

Untuk melihat efek dari obat tersebut, peneliti memantau perkembangan pasien setelah 12 bulan. Hasilnya, pasien yang terbagi dalam dua grup, tidak menunjukkan peningkatan insulin secara signifikan. Namun, grup yang mendapatkan suntikan obat, lebih jarang mengalami hypoglycaemia atau kondisi yang ditandai dengan kadar gula darah (glukosa) di bawah normal.

Ketua tim peneliti, Prof Mark Rigby dari Indiana University mengatakan penelitian pada 12 bulan pertama menunjukkan hasil yang memberikan harapan. Meski pun studi ini terbilang belum sepenuhnya sukses dan masih dalam level mencapai kesuksesan kecil.

"Meski tujuan utama penelitian belum terpenuhi, ada beberapa hal yang mulai terungkap. Adanya perbedaan signifikan di antara dua kelompok tersebut, yang menunjukkan alefacept mungkin bisa melestarikan fungsi sel pankreas selama 12 bulan pertama setelah diagnosa," ungkapnya.

Rigby mengatakan penelitian awal ini ingin menunjukkan bahwa obat alefacept bisa digunakan untuk menstabilkan kondisi diabetes tipe 1, dan mencegah progresivitasnya, namun bukan untuk menyembuhkan diabetes.

Ia menambahkan, penelitian perlu terus dilanjutkan dengan pengukuran yang lebih lama, yakni 18 dan 24 bulan.

Mengenai studi dengan kesuksesan kecil ini, sejumlah ahli menyampaikan pendapatnya.

Dr Kevan Herold dari Yale University menulis di media publikasi Lancet tentang studi ini. Ia mengatakan, "Penting untuk menggarisbawahi kesuksesan kecil studi ini karena pencapaian kecil bisa memberikan hasil lebih signifikan ke depannya."

Karen Addington, chief executive Juvenile Diabetes Research Foundation, mengatakan studi yang dibiayai dari hasil penggalangan dana untuk diabetes tipe 1 ini menunjukkan hasil yang menjanjikan.

"Butuh eksplorasi lebih lanjut dari hasil studi ini. Langkah kecil seperti studi ini membawa kita lebih dekat ke dunia bebas diabetes tipe 1. Ini memberikan tantangan tersendiri dengan kondisi yang kompleks. Tapi diabetes tipe 1 akan ada penyembuhannya suatu saat nanti. Ini hanya masalah waktu, uang, dan penelitian yang lebih baik." tandasnya.

Source : http://health.kompas.com/read/xml/2013/09/23/1857117/Obat.Kulit.Bantu.Perawatan.Diabetes.Tipe.1.