Pages

Minggu, 22 September 2013

Mengenang Kejayaan Kaset Spills Record

Mengenang Kejayaan Kaset Spills Record

Suasana diskusi peringatan Hari kaset Internasional (Cassette Store Day) dengan Moderator, Indra Ameng (kiri), Musisi Fariz RM (Kanan), Pendiri Radio Prambors Imran Amir (kedua kanan), Vokalis The Upstairs Jimi Multhazam (tengah) dan Pendiri Spills Record Jopie Koseng (kedua kiri) di Saffron Bistro, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (7/9). TEMPO/Dhemas Reviyanto

TEMPO.CO, Jakarta--Jopie Koseng, pendiri label musik indie Spills Record, menuturkan, kaset mencapai era kejayaannya di Indonesia pada 1970-an. Saat itu baru saja terjadi peralihan dari vinyl atau piringan hitam ke kaset. Masa kejayaan kaset terus bertahan hingga 30 tahun kemudian.

Menurut lelaki yang biasa dipanggil Koseng ini, biaya produksi kaset pada 1970-an terbilang sangat murah dibanding bentuk cakram padat (CD). Biaya satu kaset bisa hanya Rp 2.500. "Saat itu kaset dicintai karena memang main biaya dasarnya lebih murah dibanding CD. Begitu pula di tahun 1980-an dan 1990-an, harga satu kaset palingan hanya Rp 10 ribu, sedangkan CD bisa sampai Rp 75 ribu," kata Koseng.

Koseng terkenal mulai pertengahan 1990-an sejak mendirikan Spills Record, yang hanya merilis album dalam format kaset. Label inilah yang merilis mini-album dari berbagai band indie yang kini terkenal, dari Superman Is Dead hingga The S.I.G.I.T. Karena diproduksi dalam jumlah terbatas, album-album itu kini jadi barang langka dan banyak dicari.

Sebagai pelaku bisnis di industri kaset, Koseng masih pesimistis kaset dapat bangkit kembali di era digital. Lelaki asal Bandung yang kini berbisnis di bidang distro itu menilai, selain pemutar musik digital lebih sederhana, dinamika teknologi menjadi penyebab mengapa orang tak lagi meminati kaset.

Dari segi bahan dasar, kata dia, kaset juga tidak terlalu memiliki keunggulan dibanding format digital. Sebab, pita kaset tidak akan bertahan dengan baik pada kondisi udara yang lembap seperti di Indonesia. "Maka, yang bertahan bukan medianya, melainkan isi kasetnya," kata dia. Ia mencontohkan, kaset yang laku keras adalah kaset yang grup band-nya paling diminati. "Seandainya ada yang masih membeli kaset hingga saat ini, itu pasti adalah orang yang fanatik untuk mengoleksi saja." (Selengkapnya, baca Koran Tempo edisi Minggu 22 September 2013)

CHETA NILAWATY


Terhangat:
Penembakan Polisi | Tabrakan Anak Ahmad Dhani | Mobil Murah

Baca juga:
Ini Radio Online Khusus Lagu Indonesia
5 Kebiasaan Sehat di Tempat Kerja
Desain Vintage, Mulai Lemari Hingga Bingkai
Ketika Balita Bicara Alat Kelaminnya

Source : http://www.tempo.co/read/news/2013/09/22/108515509/Mengenang-Kejayaan-Kaset-Spills-Record