Pages

Jumat, 06 September 2013

Mengapa Kemenkes Sertakan Gambar 'Vulgar' dalam Kuesioner Kesehatan?

Jakarta, Kuesioner pemeriksaan kesehatan siswa yang disusun Kementerian Kesehatan RI membuat heboh masyarakat akhir-akhir ini. Sebab di dalamnya memuat ilustrasi payudara dan kelamin pria, sehingga dianggap beberapa orang terlalu vulgar bagi anak-anak.

Sebenarnya, kuesioner tersebut disusun oleh Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak untuk mendeteksi adanya kelainan pada siswa sejak dini. Karena yang disasar adalah kesehatan reproduksi, maka ilustrasi tersebut disertakan.

"Ini adalah skala Tanner, kita koordinasi dengan para profesi untuk menyusun ini, juga agar jelas terapi apa yang akan diberikan kepada anak tersebut," kata Dedi Kuswenda, Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Kemenkes ketika ditemui di Gedung Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuninga, Jakarta, Jumat (6/9/2013)

Skala ini dilakukan untuk menilai adanya kelainan hormon yang mempengaruhi pertumbuhan organ kelamin dan organ seks sekunder. Hormon-hormon seksual yang aktif saat masa puber akan membentuk identitas seksual dan membentuk organ reproduksi secara optimal.

Penggunaan skala Tanner didasarkan pada pertimbangan bahwa anaklah yang lebih tahu kondisi fisik payudara ataupun testisnya. Karena mereka mungkin malu jika diperiksa oleh orang lain, anak-anak diminta memilih sesuai ilustrasi yang terdapat di kuesioner.

"Kuesioner ini untuk usia SMP -SMA awal, karena jika ada kelainan, mereka perlu dikontrol. Yang diukur testis dan payudara, karena apabila ada yang masih kecil itu artinya kelainan hormon," terang Dedi.

Dedi juga menambahkan bahwa kuesioner ini bukan hanya mengukur kesehatan reproduksi saja, melainkan kondisi kesehatan siswa secara menyeluruh. Di dalamnya termuat pertanyaan tentang riwayat kesehatan diri dan keluarga, imunisasi, gaya hidup, hingga kesehatan mental dan intelegensi.

"Bukan hanya reproduksi, tapi semuanya dari ujung kaki. Tapi akhirnya yang muncul hanya sepotong saja," ujar Dedi.

Kuesioner tersebut merupakan bagiian dari pemeriksaan bertajuk 'Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah Lanjutan'.Apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya kelainan, maka Puskesmas bekerja sama dengan spesialis melakukan follow up.

Pemberian kuesioner ini sendiri sebenarnya sudah dilakukan sejak 2010 di seluruh Indonesia.

(pah/vit)

Source : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/30e1e5ad/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A130C0A90C0A60C180A3170C23517790C7630Cmengapa0Ekemenkes0Esertakan0Egambar0Evulgar0Edalam0Ekuesioner0Ekesehatan/story01.htm