Pages

Minggu, 22 September 2013

Kisah Laba-Laba Bertubuh Lentur dari Swedia

TEMPO.CO, Surakarta - Tubuh Virpi Pahkinen, penari asal Swedia, terbungkus pakaian hitam yang mengkilat dan lentur. Di atas panggung, dia memamerkan kelenturan tubuhnya pada ribuan penonton Solo International Performing Art, di Benteng Vastenburg, Surakarta, Jum'at malam 20 September 2013. Pakaian ketatnya membuat tubuh penari itu terlihat seperti karet.

Tubuh Pahkinen memang sedemikian lentur. Sembari duduk, dia mengangkat kakinya dan mengaitkannya di leher. Tanggannya dijulurkan ke bawah. Tangan dan kakinya bergerak bersamaan seperti serangga yang sedang merayap. Dia tengah berilusi menjadi laba-laba.

Hanya saja, tubuhnya memiliki keterbatasan untuk mewujudkan ilusinya. Sebab, laba-laba memiliki delapan kaki, sedang dia hanya memiliki dua tangan dan dua kaki. Dia mencoba mengatasinya dengan menggerakkan tangan dan kakinya secara cepat sembari tubuhnya terbaring melengkung.

Scarabe, demikian penari asal negara Scandinavia itu memberikan judul pada karya berdurasi sekitar 20 menit itu. Pertunjukannya diiringi oleh musik yang berasal dari petikan koto, alat musik dawai semacam kecapi yang berasal dari Jepang. Tubuhnya bergerak memamerkan kelenturannya dengan kecepatan mengikuti irama koto.

Kota Surakarta akan kembali menggelar event tahunan Solo Internasional Performing Art (SIPA), 20-22 September 2013. Berbagai cerita legenda dan sejarah dari sejumlah kota dan negara akan ditampilkan dalam kegiatan tersebut.

Sebenarnya, tidak ada legenda seputar laba-laba yang berkembang di Swedia. Namun Pahkinen tetap mencoba mengangkatnya dalam panggung SIPA 2013. "Laba-laba dan jaring yang dibuatnya telah menjadi mitos yang melegenda di banyak tempat," kata Pahkinen usai pementasan.

Pentas Pahkinen di Indonesia ini bukan kali pertama. Sebelumnya, dia pernah mementaskan tarian kontemporer, dua tahun lalu. Dia berkolaborasi dengan seniman gerak papan atas dari Solo, Mugiyono Kasido.

Penyaji lain, Kelompok Noreum Machi asal Korea Selatan memilih memamerkan alat musik tradisionalnya. Mereka mementaskannya dalam sebuah penggarapan kontemporer tanpa menghilangkan aransemen aslinya. Keterampilan dan kecepatan dalam memainkan sejumlah alat musik ansambel itu menjadi daya tarik tersendiri.

Alat musik yang digunakan terdiri dari Kkwaenggwari, Jing, Jang-gu, dan Buk, semuanya tergabung dalam seperangkat instrumen perkusi tradisional semacam gamelan yang disebut Samul. Sementara, alat musik Trap merupakan alat music tiup yang menghasilkan suara  melengking, mirip seruling yang dipakai dalam kesenian reog.

Noreum Machi mengisi permainan musiknya dengan mantra masyarakat tradisional dalam karya berjudul Binari. "Lagu ini berisi doa untuk mengusir kemalangan," kata penggarap artistiknya, Kim Ju-Hong. Sembari memainkan musik, mereka memainkan gerak sebagai penghormatan kepada tanah dan langit.

Ketua Panitia SIPA 2013, Irawati Kusumorasri mengatakan, mereka  sengaja mengangkat legenda dari berbagai kota dan negara. Tapi tak terbatas pada legenda dalam bentuk cerita. "Bisa musik, tokoh, serta segala sesuatu yang telah melegenda di tengah masyarakatnya," katanya.

AHMAD RAFIQ

Source : http://www.tempo.co/read/news/2013/09/21/113515470/Kisah-Laba-Laba-Bertubuh-Lentur-dari-Swedia