Pages

Sabtu, 07 September 2013

Atasi TB, Program Baru Senilai Rp 13 M Diluncurkan AS dan Kemenkes RI

Jakarta, Setiap tahun setidaknya ada 450 ribu kasus tuberculosis (TB atau TBC). Penyakit yang menyerang paru-paru ini juga termasuk yang dapat membunuh hingga mencapai angka 65 ribu kematian tiap tahun. Guna menanggulangi masalah ini, Amerika Serikat dan Kementerian Kesehatan meluncurkan program baru senilai US$ 12 juta atau sekitar Rp 13 miliar.

"Bersama mitra, kami akan berupaya meningkatkan kesadaran tentang TB dan memperluas kesempatan bagi orang dengan gejala TB untuk dites," kata Wakil Direktur Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), Derrick Brown, dalam keterangan tertulis yang diteriman detikcom pada Jumat (6/9/2013).

"Kami juga akan mendukung pasien-pasien untuk menuntaskan pengobatannya hingga tuntas dan sembuh. USAID bangga bisa bermitra dengan Kementerian Kesehatan dalam mendukung program TB," tambahnya.

Program kesehatan baru yang diluncurkan diberi tajuk Community Empowerment of People Againt Tubercolosis (CEPAT).
"CEPAT mendukung keberhasilan Program TB Nasional dalam pemerataan akses terhadap diagnosis dini dan pengobtan tuberkulosis yang berkualitas oleh penyedia layanan kesehatan," ujar Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan.

Menurut Prof Tjandra, program CEPAT dirancang bersama dengan program TB nasional dan diharapkan mampu mendukung Penguatan Sistem Pemberdayaan Masyarakat, salah satu dari enam pilar Model Komprehensif Program TB Nasional dalam pengendalian tuberculosis di Indonesia.

Nantinya program CEPAT ini akan berkarya di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Banten, DKI Jaya, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua dan Papua Barat. Adapun kelompok masyarakat yang menjadi target adalah yang paling rentan tuberculosis, seperti masyarakat di daerah kumuh, pengungsi dan masyarakat yang berpindah tempat tinggal, tidak punya asuransi kesehatan, sampai orang yang kurang gizi atau HIV.

Hal ini diharapkan bisa menjadi angin segar untuk para pasien tuberculosis ataupun masyarakat lainnya agar dirinya sendiri ataupun keluarga bisa didiagnosa lebih awal. Dengan demikian, mereka akan mendapatkan pengobatan secepatnya.

(vit/vit)

Source : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/30e3906e/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A130C0A90C0A60C20A0A7490C23518880C7630Catasi0Etb0Eprogram0Ebaru0Esenilai0Erp0E130Em0Ediluncurkan0Eas0Edan0Ekemenkes0Eri/story01.htm