Pages

Senin, 01 Juli 2013

Ini Alasan Mereka Berpindah-pindah Kerja

TEMPO.CO, Jakarta - Banyak orang berpindah-pindah kerja demi mencari passion yang tepat. Bukan semata gaji, ada alasan lain mengapa orang ingin bekerja sesuai panggilan hatinya.

Konsultan karier, Yuni Lasti Faulinda, menyatakan seseorang yang secara utuh menjalani pekerjaan dengan dorongan passion akan lebih bersemangat dan maksimal dalam menjalani pekerjaannya. "Ia akan memiliki peluang lebih besar untuk bisa sukses," kata konsultan karier dari lembaga konsultan Experd ini.

Ketika seseorang mencintai pekerjaannya, menurut Yuni, pekerjaan menjadi lebih dari sekadar bekerja. "Pekerjaan akan berubah menjadi sebuah misi dalam hidup," ia menjelaskan.

Selain panggilan jiwa, beberapa faktor ikut mendorong mereka berpindah-pindah kerja atau beralih profesi. Ambil contoh Putri Fitria. Menurut Putri, pada dasarnya ia bukan tipe pemilih dalam hal pekerjaan. Ia juga membantah mudah bosan sehingga sering gonta-ganti profesi.

Namun, ada sejumlah hal yang akhirnya mendorong dia melepaskan profesi tertentu. Di antaranya persoalan kenyamanan kerja, besaran gaji, dan suasana kota tempatnya bekerja.

Ia pun mengaku menghindari bekerja di Jakarta karena tak nyaman dengan kondisi kotanya. Pengalaman bekerja di Jakarta, yakni saat menjadi peneliti di Kedutaan Besar Iran, membuat Putri kapok. Meski menikmati kerja jadi peneliti, kepuasan batinnya tak sebanding dengan kejengkelannya karena mesti berjibaku dengan kemacetan setiap hari.

"Saya tidak merasa bahagia dengan kotanya, bukan pekerjaannya. Setiap hari saya harus menghabiskan 3-4 jam di jalan, untuk pulang-pergi kantor. Mau main dan bertemu teman pun enggak sempat karena semua tempat seperti serbajauh," ujar Putri. "Jadi mending saya mencari pekerjaan lain. Kalau saya rajin, pemasukannya bisa melebihi saat kerja di Jakarta."

Terus berpetualang dari satu profesi ke profesi lain dianggap Putri juga menyenangkan karena ia bisa belajar banyak hal. Apalagi, saking seringnya ganti profesi, Putri tak lagi kesulitan beradaptasi dengan pekerjaan baru. Namun, yang dijalaninya itu bukan tanpa kelemahan. "Karier saya enggak jelas, dan saya juga enggak punya asuransi kesehatan seperti yang didapat pegawai kantoran. Hehehe.."

Lain lagi dengan Stephen Dawni Nugraha. Menurut Dawni, dia adalah pribadi yang cepat memutuskan apakah sudah saatnya ia harus berpindah kapal. Ia dapat menjawab pertanyaan, to resign or not to resign, maksimal dalam waktu satu minggu. "Kalau merasa masih harus stay, aku pasti bilang enggak akan pindah," katanya.

Hanya, Dawni yang baru menikah ini harus berdiskusi dulu dengan sang istri sebelum memutuskan keluar dari satu pekerjaan. Dawni juga tak memungkiri, kenaikan gaji yang signifikan selalu mengikuti setiap ia pindah ke perusahaan baru. Namun, ia menegaskan, tantangan yang ditawarkan pekerjaan baru merupakan alasan nomor satu dalam mengambil keputusan. "Salary tetap nomor dua," ujarnya.

Selama ini Dawni tidak memiliki masalah karena kerap berpindah kerja. Sejauh pengalamannya, perusahaan pun tidak alergi dengan kebiasaannya berpindah kerja dalam waktu kurang dari dua tahun ini.

Meski begitu, Dawni tetap memiliki target untuk kariernya. Di umur 35, ia ingin menjadi venture capitalist atau mulai mengelola private equity firm fund sendiri. "Saya menyebutnya to be an entrepreneurial investor, investor yang punya fundamental bisnis yang laku," ujarnya.

Adapun Ade Taryana mengaku faktor kenyamananlah yang memicunya pindah-pindah kerja dan profesi. Karena itu, saat ini Ade belum terpikir mencari pekerjaan baru karena sedang merasa nyaman dengan profesinya sebagai marketing research & development assistant.

"Iya, sih, enak gonta-ganti kerjaan, bisa dapat pengalaman banyak. Tapi capek juga terus-terusan 'tebalin muka' untuk kenalan dan pedekate ke kawan kantor baru," katanya. "Sekarang saya sudah belajar, tidak ada perusahaan yang sempurna."

ISMA SAVITRI | IQBAL MUHTAROM | RATNANING ASIH

Source : http://www.tempo.co/read/news/2013/06/30/215492252/Ini-Alasan-Mereka-Berpindah-pindah-Kerja